RW 5 Kebonsari Kulon Hidupkan Kembali Tradisi Mancing Lewat Lomba HUT RI ke-80
- Aug 25, 2025
- MasOman
- Seputar Pemerintahan, Seputar Event
Kebonsari Kulon, Kota Probolinggo,( 24/08/2025 ). RW 5 Kelurahan Kebonsari Kulon, Kota Probolinggo, kembali menggeliat dengan semangat kemerdekaan melalui penyelenggaraan lomba mancing dalam rangka HUT RI ke-80. Setelah vakum selama kurang lebih empat tahun, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi memancing sekaligus merintis destinasi wisata baru bertajuk Kampung Mancing Mania RW 5.

Lomba yang digelar di aliran Sungai Kali Anyar ini diikuti oleh warga lokal dan pemancing dari luar kota, termasuk dari wilayah Probolinggo dan sekitarnya. Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 pagi dan berlangsung hingga pukul 21.00 malam, dengan suasana yang meriah dan penuh semangat. Ikan dengan berat 1,8 kg hingga 2,8 kg berhasil diangkat, bahkan terdapat momen dramatis saat ikan seberat 3–3,5 kg nyaris terangkat sebelum kail putus.

Kegiatan ini terbagi dalam 10 sesi, dengan masing-masing sesi diikuti oleh sekitar 25 pemancing. Total peserta yang berpartisipasi pun mencapai hampir 400 orang, menjadikan lomba ini sebagai salah satu kegiatan paling meriah dan inklusif yang pernah digelar di RW 5. Antusiasme yang tinggi dari para pemancing menunjukkan bahwa potensi wisata berbasis komunitas ini sangat besar dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Jumlah panitia sebanyak 40 orang yang mana dengan tujuan untuk menjaga sportifitas pemancing sehingga bisa terhindar dari kegaduhan atau permasalahan nantinya.

Salah satu momen paling mengharukan datang dari sesi ke-7, ketika Sultan, peserta termuda berusia 8 tahun, berhasil mengangkat ikan seberat 2,8 kg dan dinobatkan sebagai juara 1 lomba mancing. Prestasi Sultan menjadi simbol semangat generasi muda dalam menjaga tradisi dan turut serta dalam kegiatan komunitas.
Setelah sesi lomba resmi berakhir pukul 21.00, kegiatan tetap berlanjut dalam format galatama. Dalam galatama, peserta tetap memancing namun tidak dalam sistem perlombaan sesi. Juara 1 hingga 3 ditentukan berdasarkan hasil tangkapan terbanyak atau terberat, dan hadiah diambil dari akumulasi biaya pendaftaran. Selain itu, peserta diperbolehkan membawa pulang ikan yang berhasil mereka kail, menjadikan galatama sebagai sesi yang lebih santai namun tetap kompetitif dan menguntungkan.

Tak hanya lomba, kegiatan ini juga diramaikan oleh pedagang kaki lima dan penjual kopi dari wilayah sekitar. Kehadiran mereka memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal, membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan warga. Ketua RW 5 menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Bapak Misnadi selaku Ketua RW 5 juga menyampaikan harapan besar kepada Pemerintah Kelurahan Kebonsari Kulon agar dapat memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Kampung Mancing Mania sebagai destinasi wisata baru. Dukungan tersebut diharapkan mencakup pembinaan, promosi, serta bantuan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberlangsungan kegiatan wisata berbasis komunitas ini. Dengan sinergi antara warga dan pemerintah, RW 5 optimis dapat menjadi pionir wisata tematik yang mengangkat potensi lokal.
Warga RW 5 menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyukseskan kegiatan ini, mulai dari persiapan lomba hingga mendukung para pedagang lokal yang turut meramaikan acara. Bapak Misnadi selaku Ketua RW mengajak seluruh warga untuk terus berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan wisata, karena keberhasilan kampung tematik ini sangat bergantung pada semangat gotong royong dan rasa memiliki dari masyarakat setempat.
Bapak Misnadi selaku Ketua RW 5 menyampaikan antusiasmenya terhadap terbentuknya Kampung Mancing Mania. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga membuka peluang besar untuk menjadikan RW 5 sebagai ikon wisata tematik di Kota Probolinggo. “Insya Allah, ini bukan sekadar lomba, tapi awal dari gerakan wisata berbasis masyarakat yang akan kita jaga dan kembangkan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Bapak Ikromi, Lurah Kebonsari Kulon, turut hadir dan memberikan apresiasi atas inisiatif warga RW 5. Ia menyatakan dukungannya terhadap pembentukan kampung tematik tersebut dan berharap agar kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut. “Kami dari kelurahan sangat mendukung. Ini adalah bentuk kreativitas warga yang patut diapresiasi dan difasilitasi agar bisa menjadi destinasi unggulan di wilayah kita,” ungkapnya.
Berikut hasil wawancara bersama Bapak Misnadi tentang kegiatan lomba mancing gembira ini :
Dengan potensi alam dan semangat warga yang luar biasa, RW 5 berharap Kampung Mancing Mania dapat menjadi model wisata komunitas yang menginspirasi wilayah lain di Kota Probolinggo. Ketua RW menegaskan bahwa destinasi ini bukan hanya tentang rekreasi, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan penguatan identitas lokal. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah kota, untuk bersama-sama mewujudkan visi ini demi kemajuan wilayah secara berkelanjutan.
Kampung Mancing Mania RW 5: Dari hobi menjadi potensi ( oman/MP )